gue banyak gak tau

Terasa manis mungkin atau entah apalah itu, seperti ketika gue ngajak dia makan oncom, tak peduli enak atau engga rasa oncomnya, yg penting saat itu gue lagi pengen bareng dia.

Gue bukan orang yang mau memaksakan kehendak. Mungkin itu kalimatnya. Tapi tindakan dan bahasa tubuh gue seperti selalu memaksakan kehendak. Gue selalu merasa pantas mendapatkan apa yg gue inginkan. Gue terlalu merasa hebat pada diri sendiri dan merasa lebih baik dari siapa pun. Gue selalu membandingkan gue dengan orang lain. Melihat orang lain bekerja di tempat yg hebat, lalu gue melihat gue yang belum bisa seperti mereka. Sampai gue melamun dan mencari pembenaran. Mereka yg kerja di tempat hebat dan memiliki penghasilan besar berbanding terbalik dengan waktu luang mereka. Gue saat ini tidak kerja di tempat yg berpenghasilan besar berbanding terbalik dengan waktu luang, gue punya banyak waktu luang yg tak semua orang punya, gue bisa melakukan hal bebas kapan saja seperti tidur siang, jalan2 di hari senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu, atau tidur seharian dirumah, tapi dengan catatan dirumah lagi sepi supaya teu di carekan gara2 molor wae.. seperti pada suatu pagi yg tenang gue tidur lagi setelah solat subuh. dan serangan tiba2 pun datang, “ulah sare wae atuh tos subuh teh, engke mah teu pantes mun geus boga pamajikan jeung mitoha mah”. Kurang lebih begitulah kalimatnya.. dan setelah mencari pembenaran dari semua yg gue bandingkan gue merasa menang. Kalimat “rumput tetangga terlihat lebih hijau” menjadi kalimat pembenaran. Entah benar atau salah pemaknaan kalimat itu. Saat ini yang gue cari masih pada kebahagiaan sendiri. Padahal dengan berbagi, atau mengajak orang lain untuk bahagia akan terasa lebih bahagia. Anggap saja bahagia untuk diri sendiri disebut bahagia level 1, dan berbagi bahagia dengan orang lain disebut bahagia level 2.

Setelah berkonsultasi kepada orang yang masih polos (katanya) tentang hati dan berbagai rasa yang ada di dalamnya, gue mendapatkan sedikit pencerahan walaupun saat itu malam gelap. Berawal dari kata ‘antapani’ kepanjangan dari antara cinta tapi eweh kawani. Apa cinta itu saat ini gue belum ngerti, tapi kata seorang konsultan yang lagi menyimak acara TV bahwa ‘antapani’ berarti gak gentle, sedangkan kebalikan dari antapani adalah ‘tatani’ cinta tapi wani (sedikit maksa memang tapi gimana dia ajalah), dan yang berani adalah yang datang ke rumah bilang cintanya.. wkwkwk (sambil ngakak dia berbicara). Saat ini gue ga tau apa itu cinta, soalnya masih samar, ini cinta atau bukan. Gue minta gambaran tentang cinta ke konsultan.
“coba bisa kasih gambaran ttg cinta?” kata gue.
Dia bilang “coba kasih tau dulu apa yang kamu rasa?”.
“manis” jawab gue.
Sambil nepuk jidat dia bilang “serius”.
“ada rasa senang aja” jwb gue.
“Nyaman?”
“bisajadi” jwb gue.
“waspada, cinta bisa tumbuh dr kenyamanan” dengan mantaff dia berkata.
“oh gt,, trs baiknya gimana langkah selanjutnya?” Tanya gue.
“ terserah kamu itu mah, mau lanjut atau dibatasi cuma sampe nyaman dan gak lebih”. Jwb dia.
“jangka panjangnya lanjut, sekarangkan masih antapani. Seiring berjalannya waktu kenyamanan bisa hilang atau juga tetep utuh”. Jawab gue so keren.
“yaudaah monggo menurut kamu baikk yowiisss. kan ada saatnya”. Katanya.
“hahaha.. dipendam keneh weh merennya da jangka panjang”. Sambil ketawa garing gue bertanya.
“mendam gt emang nyaman?” Tanya dia.
“enggalah”.
“makanya, kasih tau orangnyaaa.. kamu nyaman gitu sama dia.. untuk urusan ke depan gatau, gt”. Kata dia ngasih solusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s